Back to Top
ENG | IND
MENU

Featured News



Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
25-01-21

Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19

On 25 January 2021, a subsidiary of PT Barito Pacific Tbk, PT Griya Idola, distributed food packages to the Tangerang Regency Government. The distribution of food packages is part of the Griya Idola Care program which was initiated in 2020. The assistance which collected collectively from the tenants of the Griya Idola Industrial Park industrial area is expected to help restore the economy of the communities affected by the Covid-19 Pandemic.



Latest News



Laba Bersih Barito Pacific Melesat 208,41%

23 Dec 2009
Laba Bersih Barito Pacific Melesat 208,41%
23-12-09

Laba Bersih Barito Pacific Melesat 208,41%

JAKARTA - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatatkan peningkatan laba bersih selama kuartal III-2009 sebesar 208,41 persen menjadi Rp560,422 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya minus Rp516,92 miliar.

Peningkatan laba bersih perseroan dipicu oleh terpangkasnya pos beban pokok penjualan selama kuartal III-2009 menjadi Rp8,847 triliun atau turun 36,87 persen bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,014 triliun. Sedangkan, pos laba kotor perseroan berhasil melonjak 164,7 persen menjadi Rp1,657 triliun, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp10,744 miliar.

Hal tersebut terungkap dalam laporan keuangan kuartal III-2009 kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (23/12/2009). Kendati demikian, pada pos pendapatan bersih perseroan terpangkas menjadi Rp10,504 triliun, bila dibandingkan periode yang sama sebesar Rp14,024 triliun.

Pada beban usaha perseroan, pos penjualan mengalami penurunan sebesar 7,13 persen menjadi Rp132,288 miliar bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp142,458 miliar. Pos umum dan administrasi naik menjadi Rp349,955 miliar bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp307,055 miliar.

Laba sebelum pajak perseroan selama kuartal III-2009 pun melonjak menjadi Rp1,112 triliun bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya minus Rp627,691 miliar. Pos beban pajak pun melonjak menjadi minus Rp300,631 miliar jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya minus Rp17,747 miliar.

Pada pos laba bersih per saham dasar, perseroan mengalami kenaikan menjadi Rp80 bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya minus Rp74.

Terpantau, pada perdagangan IHSG sesi pertama pagi ini, harga saham dengan kode emiten BRPT berhasil melonjak Rp60 atau setara 4,92 persen menjadi Rp1.280 per unitnya.(css)

Oleh: Candra Setya Santoso - Okezone

 

Sumber: Okezone.com

http://economy.okezone.com/read/2009/12/23/278/287517/laba-bersih-barito-pacific-melesat-208-41

 

Beban turun, laba Barito melonjak 208,42%

23 Dec 2009
Beban turun, laba Barito melonjak 208,42%
23-12-09

Beban turun, laba Barito melonjak 208,42%

JAKARTA: PT Barito Pacific Tbk mencetak laba bersih per September 2009 sebesar Rp560,42 miliar, melonjak 208,42% dibandingkan dengan rugi bersih Rp516,92 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan laba bersih itu karena penurunan beban pokok penjualan sebesar 36,83% dari posisi September tahun lalu Rp14,02 triliun menjadi Rp8,85 triliun pada akhir kuartal III/2009. Akibat pemangkasan beban itu, laba kotor Barito, perusahaan induk yang dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu, meroket 15.325,66% dari hanya Rp10,74 miliar menjadi Rp1,66 triliun.

Selain itu, pertumbuhan kinerja Barito ditopang oleh membaiknya harga jual polipropilena dan polietilena. Pada kuartal III/2009, harga jual rata-rata polipropilena US$1.304 per metrik ton, naik dibandingkan dengan posisi per kuartal II US$1.189 per metrik ton.

Harga jual rata-rata polietilena pada kuartal III/2009 naik menjadi US$1.305 per metrik ton dari kuartal II/2009 sebesar US$1.160 per metrik ton.

Namun, bila dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal II, Barito mencetak pertumbuhan laba per September 46,06%. Pada akhir Juni tahun ini, perusahaan itu membukukan laba bersih Rp383,70 miliar.

Hingga akhir September tahun ini, posisi kas dan setara dengan kas Barito mencapai Rp1,91 triliun. Pada masa yang akan datang perseroan akan fokus untuk terus mengintegrasikan bisnis petrokimia milik Perseroan.

"Peningkatan kapasitas menjadi prioritas bagi anak-anak perusahaan kami di sektor petrokimia," kata Senior VP Investor Relations Barito Pacific Agustino Sudjono. Berdasarkan laporan keuangan Barito per Juni 2009, Barito menguasai 70% saham PT Chandra Asri dan 77,93% saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Chandra Asri merupakan produsen etilena dan propilena, sedangkan Tri Polyta menghasilkan polipropilena.

Kapasitas produksi etilena mencapai 600.000 ton per tahun, sedangkan propilena mencapai 296.000 ton per tahun. Kapasitas produksi polipropilena mencapai 360.000 ton per tahun. Tri Polyta berencana menggenjot kapasitas produksi polipropilena menjadi 480.000 ton per tahun dengan investasi US$25 juta.

Harga minyak

Sesuai dengan riset Ciptadana Securities pada 26 Mei 2009, sekuritas itu memperkirakan harga rata-rata nafta, produk turunan dari minyak mentah yang merupakan bahan baku dari etilena dan propilena, mencapai US$548 per metrik ton, turun dibandingkan dengan harga rata-rata pada tahun lalu sebesar US$913 per metrik ton. Penurunan harga nafta seiring dengan penurunan harga minyak saat ini dibandingkan dengan tahun lalu.

Harga etilena dan propilena diperkirakan naik dari US$1.190 dan US$1.200 per metrik ton tahun ini menjadi US$1.378 dan US$1.825 per metrik ton pada 2012.

Dampak dari stabilisasi harga nafta dan produk petrokimia itu, Ciptadana memperkirakan margin laba kotor dan margin laba usaha Barito meningkat secara bertahap.

Margin kotor dan margin usaha Barito pada tahun ini diperkirakan mencapai 9% dan 4,8%, melonjak dari posisi -10,1% dan -5,8% pada tahun lalu.

Sekuritas itu mengestimasi laba bersih Barito bisa mencapai Rp785 miliar pada akhir tahun ini, melonjak dibandingkan dengan rugi bersih Rp3,40 triliun pada tahun lalu. Penjualan bersih perusahaan itu diperkirakan naik ke level Rp20,45 triliun pada tahun ini bila dibandingkan dengan angka tahun lalu senilai Rp18,32 triliun.

Kemarin, harga saham emiten berkode BRPT itu ditutup menguat 0,83% menjadi Rp1.220 dibandingkan dengan hari sebelumnya senilai Rp1.210. Apabila mengacu ke harga saham tersebut, nilai kapitalisasi pasar Barito mencapai Rp8,51 triliun.

Oleh Wisnu Wijaya
Bisnis Indonesia


Sumber: Bisnis Indonesia
http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/bursa/1id152607.html

 

Barito Raih Laba Rp 560 Miliar

23 Dec 2009
Barito Raih Laba Rp 560 Miliar
23-12-09

Barito Raih Laba Rp 560 Miliar

JAKARTA. Keputusan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengubah haluan bisnis dari usaha kayu menjadi petrokimia membuahkan hasil. Hingga kuartal ketiga 2009, perusahaan ini mampu menorehkan laba bersih Rp 560,42 miliar. Angka ini jelas lebih baik ketimbang kinerja Barito pada periode yang sama 2008 yang merugi Rp 516,92 miliar.

Pemicu utama lonjakan laba bersih perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu ini adalah menciutnya beban pokok penjualan sebesar 36,83% menjadi Rp 8,85 triliun. Alhasil, laba kotor BRPT pun melonjak hingga 15.325,66% menjadi Rp 1,66 triliun, dari kuartal angka ketiga 2008 yang sebesar Rp 10,74 miliar.

Senior Vice President Investor Relations BRPT Agustino Sudjono membeberkan, penguatan harga jual polypropylene dan polyethylene merupakan faktor yang membuat rapor keuangan BRPT membiru. Di kuartal III-2009, harga jual rata-rata polypropylene meningkat 9,67% ketimbang kuartal kedua 2009 menjadi US$ 1.304 per metrik ton. Sedangkan rata-rata harga jual polyethylene sepanjang kuartal tiga 2009 US$ 1.305 per metrik ton atau naik 12,5% ketimbang kuartal sebelumnya. "Kami akan terus meningkatkan kapasitas produksi anak usaha kami," ujar Agustino.

Salah satu anak usaha itu adalah PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA). Barito berencana meningkatkan kapasitas produksi TPIA, dari 360.000 metrik ton (MT) per tahun menjadi 480.000 MT per tahun. "Peningkatan kapasitas memakan waktu 18 bulan," katanya. Jadi, target kapasitas produksi baru terealisasi pada triwulan pertama tahun 2011.


Yuwono Triatmodjo, Ade Jun Firdaus
 
Sumber: Kontan
http://www.kontan.co.id/index.php/investasi/news/27173/Barito-Raih-Laba-Rp-560-Miliar

Indonesia petchem plants unaffected by Sumatra quakes

01 Oct 2009
Indonesia petchem plants unaffected by Sumatra quakes
01-10-09

Indonesia petchem plants unaffected by Sumatra quakes

SINGAPORE (ICIS news)--Petrochemical plants in Indonesia continued to run smoothly despite two deadly earthquakes that rocked Sumatra island, industry sources said on Thursday.

A 6.8-magnitude quake occurred on Thursday at 9:31am local time (0131 GMT) 96 miles northwest of Bengkulu, less than 24 hours after a major earthquake struck Padang city in western Sumatra.

Wednesday’s earthquake measuring 7.6 on the Richter scale crushed 500 houses and may have killed thousands in Padang, which has a population of 900,000, according to media reports. Tremors of the Sumatra quakes were felt in Indonesian neighbouring countries of Singapore and Malaysia.

No damage was reported at the facilities of Indonesian state-owned energy major Pertamina, said company spokesperson Alicia Irzanova.

“We don’t have any upstream plants in Padang city,” she said, adding that Pertamina’s petrochemical plants were located too far from the quakes' epicentre to be affected.

The company has an aromatics facility that produces 125,000 tonnes/year of benzene and 275,000 tonnes/year of paraxylene at Cilacap in Java, Indonesia’s second biggest island.

Operations were normal at the plants, said a company source.

“The impact on the petrochemical industry in Indonesia is limited given that most of the factories are located on Java island,” said a source at an styrene butadiene rubber (SBR) producer PT Sentra.

A vast concentration of Indonesia’s petrochemical plants is in the Merak peninsula in Java island.

These include Chandra Asri’s 600,000 tonne/year naphtha cracker, Continental’s butyl acetate plant and PT Sentra’s styrene butadiene rubber (SBR) factory.

Java also experienced a 7.3 magnitude quake on 2 September but failed to rattle the petrochemical operations in the island.

With additional reporting by Helen Yan, Helen Lee, Bohan Loh, Clive Ong and Peh Soo Hwee

Source: ICIS Web, http://www.icis.com/Articles/2009/10/01/9251725/Indonesia-petchem-plants-unaffected-by-Sumatra-quakes.html

Laba Barito Melejit; Rights issue sedang dipersiapkan

14 Sep 2009
Laba Barito Melejit; Rights issue sedang dipersiapkan
14-09-09

Laba Barito Melejit; Rights issue sedang dipersiapkan

JAKARTA: PT Barito Pacific Tbk sepanjang semester I/2009 membukukan laba bersih Rp383,7 miliar, naik 202,95% dibandingkan dengan periode yang sama 2008 yang merugi bersih Rp372,7 miliar.

Kenaikan itu dipicu oleh penurunan beban pokok penjualan, yang mendongkrak laba kotor perseroan. Pada semester I/2009, beban pokok penjualan terpangkas 36,12% menjadi Rp5,49 triliun, dari posisi yang sama 2008 senilai Rp8,6 triliun.

Anjloknya beban pokok penjualan itu memicu kenaikan laba kotor sebesar 899,92% atau Rp1,16 triliun. Tahun ini, Barito meraup laba kotor Rp1,03 triliun setelah pada periode yang sama tahun lalu menanggung rugi kotor sebesar Rp129,16 miliar.

Senior Vice President Barito Pacific Agustino Sudjono menyatakan bisnis petrokimia masih menjadi tulang punggung kinerja perseroan, melalui dua anak usahanya yakni PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

“Kami berkomitmen mengintegrasikan sektor petrokimia dari hulu hingga hilir,” paparnya kemarin.

Bisnis mencatat Pada 2008, Chandra Asri mengontribusi sekitar 86% pendapatan konsolidasi Barito, sedangkan Tri Polyta menyumbang 13% pendapatan.

Dalam rilisnya, Tri Polyta mengumumkan kenaikan laba bersih semester I/2009 sebesar 185% menjadi Rp365 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp128 miliar.

Sekretaris Perusahaan Suryandi mengatakan peningkatan laba bersih itu disebabkan oleh peningkatan volume penjualan pada semester I/2009 menjadi 207.740 ton atau naik 22% dari volume pada periode yang sama 2008 sebesar 170.302 ton.

Sumber Bisnis mengungkapkan perseroan sedang menyiapkan penawaran saham terbatas (rights issue) untuk mendukung ekspansi. “Manajemen sedang memantau situasi pasar keuangan untuk memastikan saat yang tepat untuk masuk.”

Namun, Agustino ketika dikonfirmasi menolak berkomentar. “Saya belum bisa berkomentar. Yang jelas Barito punya kas Rp2,15 triliun.”

Sejumlah pelaku pasar berspekulasi rights issue untuk mendukung pendanaan akuisisi. Rencana akuisisi yang merebak adalah terhadap PT Star Energy Mining, yang merupakan sister company karena sama-sama dikendalikan oleh pemilik Barito, Prajogo Pangestu. (arif.gunawan@bisnis.co.id/munir.haikal@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S. & M. Munir Haikal
Bisnis Indonesia

Sumber: Bisnis Indonesia, 14 September 2009. http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/bursa/1id137761.html