Back to Top
ENG | IND
MENU

Featured News



Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
25-01-21

Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19

On 25 January 2021, a subsidiary of PT Barito Pacific Tbk, PT Griya Idola, distributed food packages to the Tangerang Regency Government. The distribution of food packages is part of the Griya Idola Care program which was initiated in 2020. The assistance which collected collectively from the tenants of the Griya Idola Industrial Park industrial area is expected to help restore the economy of the communities affected by the Covid-19 Pandemic.



Latest News



Menakar Peluang Rights Issue Barito

20 Aug 2009
Menakar Peluang Rights Issue Barito
20-08-09

Menakar Peluang Rights Issue Barito

Majalah Forbes yang gemar mengurutkan posisi orang kaya dunia, tahun lalu menempatkan Prajogo Pangestu pada peringkat ke-20 orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan US$200 juta.

Taksiran nilai kekayaan itu menurun dibandingkan dengan pada 2007 sebesar US$420 juta, sebagian karena kepemilikannya di PT Barito Pacific Tbk dan harga sahamnya anjlok drastis.

Tampaknya peruntungan Prajogo akan meroket lagi pada tahun ini sehubungan dengan kinerja Barito yang bangkit dari lubang kerugian. Perseroan memang belum memublikasikan laporan keuangan per 30 Juni 2009 karena masih dalam telaah terbatas.

Namun, Head of Investors Relations Barito Agustino Sudjono mengindikasikan kinerja kuartal II/2009 perusahaan sumber daya ini bakal melejit, sehingga kinerja tengah tahun lebih bagus bahkan terhadap semester I/2007, kenaikannya lebih dari dua kali lipat. Kinerja 2008 tidak dijadikan pembanding karena dinilai bergerak di luar siklus.

Kinerja kuartal II/2009, katanya, jauh lebih bagus dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Ini didukung oleh pertumbuhan permintaan yang lebih kencang pascakrisis akhir 2008.

Selain itu, harga minyak dunia yang relatif stabil menjadikan harga bahan baku terjaga, tetapi perseroan menaikkan harga jual produk (bahan baku plastik) lebih dari 10%.

Sebagai gambaran, penjualan bersih Barito pada semester I/2007 sebesar Rp211,20 miliar dengan laba bersih Rp37,03 miliar, sedangkan pada semester I/2008 penjualan bersih mencapai Rp8,53 triliun dan rugi bersih Rp372,70 miliar.

Pembalikan kinerja itu agaknya sudah tercium oleh para pemodal hingga ke mancanegara. Buktinya, Barito menjadi salah satu emiten yang diundang untuk memaparkan kinerjanya kepada pemodal dalam ajang Indonesia Corporates Day yang diselenggarakan oleh BNP Paribas yang berlangsung di Singapura hari ini.

Analis PT UOB Kay Hian Securities Liny Halim dalam laporannya setelah menemui manajemen Barito, mengatakan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization/EBITDA) perseroan melejit.

EBITDA anak usahanya yakni PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk secara kuartalan melonjak 300% dan 27%.

Laba bersih perseroan pada kuartal II/2009 melonjak menjadi Rp500 miliar. Dengan demikian, pada akhir tahun perseroan dapat membukukan keuntungan sedikitnya Rp800 miliar.

Namun, menurutnya, perseroan dapat mencetak laba Rp1,1 triliun, sehingga mencerminkan rasio harga dibandingkan dengan laba bersih per saham (price to earning ratio/PER) estimasi tahun ini sebesar 9,5 kali.

Menariknya, harga saham Barito diperdagangkan baru pada level 0,5 kali biaya penggantian. Dengan aset tetap dinilai hanya Rp22 triliun, akibat akumulasi dari depresiasi.

Sementara itu, pengurai naphta yang dimiliki perseroan merupakan aset kelas dunia dilengkapi dengan infrastruktur dan dermaga mandiri.

Barito yang bermula dari perusahaan pengolahan kayu lalu menjadi perusahaan petrokimia melalui anak usahanya (PT Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk) ini terus bergerak merambah bisnis terkait sumber daya alam guna meningkatkan kinerja perseroan.

Presiden Direktur Barito Loeki Sundjaja Putera mengonfirmasi hal itu dengan mengatakan,

"Kalau ada dan cocok [diversifikasi usaha termasuk melalui akuisisi] harus kami lakukan secara hati-hati, yang penting komitmen kami tetap di bisnis petrokimia," tuturnya pada 1 Mei 2009.

Akuisisi Star Energy

Rencana akuisisi yang merebak paling kencang adalah terhadap PT Star Energy Mining, yang merupakan sister company karena sama-sama dikendalikan oleh Prajogo Pangestu.

Liny Halim menyebut Star Energy sebagai permata bagi keluarga Barito. Pasalnya, Star Energy memiliki aset berkualitas seperti blok migas Kakap, serta mengoperasikan pembangkit listrik panas bumi terbesar di Tanah Air. Saat ini, kepemilikan Barito di Star Energy sebesar 40%, pengelola dana asal London dan Agus Projosasmito melalui Nusantara Capital masing-masing menguasai 30% selebihnya.

Pendanaan akuisisi, katanya, kemungkinan besar akan berasal dari penawaran umum terbatas (rights issue), sebagaimana ditempuh perseroan ketika mengakuisisi Chandra Asri pada 2007.

Saat itu, harga saham baru yang diterbitkan Barito ditawarkan Rp2.100. Jika mengacu pada harga penawaran tersebut, Liny memperkirakan rights issue pada kuartal IV/2009 itu bakal berada di atas Rp2.100 per saham karena jika dilaksanakan di bawah harga itu, Prajogo akan kehilangan dana yang disuntikkan sebelumnya.

Sumber Bisnis menambahkan dengan asumsi itu, berarti masih ada potensi upside terhadap harga saham Barito, mengingat harga pasar saat ini Rp1.460 per saham. Dengan peluang rights issue di atas Rp2.100, berarti harga pasar saham Barito idealnya di atas level itu agar lebih menarik untuk pemegang saham publik.

Seandainya harga pasar Barito masih di bawah level Rp2.100, pemegang saham publik akan enggan menggunakan haknya dalam rights issue selanjutnya. "Saat ini Barito masih menelaah laporan keuangan per Juni 2009 yang nantinya digunakan sebagai dasar dalam aksi korporasi."

Pada perdagangan kemarin, harga saham berkode BRPT ini ditutup turun 2,67% atau Rp40 ke level Rp1.460, menjadikannya bernilai pasar Rp10,19 triliun. Tepat setahun yang lalu, saham BRPT berada di level Rp1.400.

"Hal itu mengimplikasikan potensi kenaikan harga saham," ujar Liny. UOB menargetkan saham BRPT berada di level Rp1.490. Harga tertinggi saham ini dalam setahun terakhir di level Rp1.540 dan terendah Rp495.

Harga akuisisi, tambahnya, bakal menggunakan nilai buku karena aksi korporasi ini lebih bersifat konsolidasi bisnis keluarga Barito ketimbang mengejar keuntungan.

Di sisi lain, Liny menyoroti kepemilikan Temasek sebesar 30% di Chandra Asri. Dengan kedekatan hubungan antara pengelola dana negara Singapura itu dan keluarga Pangestu, dia memproyeksikan jalinan itu akan diresmikan menjadi kepemilikan di Barito, perusahaan induknya. "Akan lebih mudah bagi Temasek keluar dari Barito ketimbang dari Chandra Asri yang bukan perusahaan tercatat di bursa. Tetapi kami tidak pasti mengenai waktunya." (Wisnu Wijaya) (pudji.lestari@bisnis.co.id)

Oleh Pudji Lestari, Wartawan Bisnis Indonesia

Sumber: http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/bursa/1id133708.html

 

Harga bahan plastik melonjak,Peningkatan permintaan dongkrak harga baja

19 Aug 2009
Harga bahan plastik melonjak,Peningkatan permintaan dongkrak harga baja
19-08-09

Harga bahan plastik melonjak,Peningkatan permintaan dongkrak harga baja

JAKARTA: Pasar domestik mulai terguncang oleh lonjakan harga bahan baku plastik berupa polipropilena (PP) yang terus meroket hingga pertengahan Agustus. Kondisi serupa juga terjadi pada produk baja.

Khusus di industri petrokimia, lonjakan harga PP yang saat ini bertengger di level US$1.500 per ton sejak awal Agustus memperlihatkan adanya anomali (penyimpangan) di pasar domestik mengingat harga minyak mentah cenderung terus turun, sedangkan permintaan melonjak hampir dua kali lipat.

Selama ini, fluktuasi harga minyak mentah menjadi acuan dasar bagi kalangan produsen bahan plastik untuk menentukan harga jual. Namun, tingginya permintaan dan terbatasnya pasokan PP membuat harga komoditas itu terdongkrak cepat dalam beberapa bulan terakhir.

Pada tahun ini, pasar domestik bahkan diproyeksikan mengalami defisit pasokan PP sekitar 325.000–350.000 ton.

Budi Susanto Sadiman, Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (INAplas) Bidang Pengembangan Bisnis, mengatakan harga PP melonjak 57,89% dari posisi US$950 per ton pada Januari menjadi US$1.500 per ton pada Agustus.

Kenaikan harga ini membuat produsen hilir plastik berada dalam posisi dilematis untuk menaikkan harga produk mengingat menjaga daya beli di dalam negeri masih lemah. Akibatnya, kebijakan mempertahankan harga membuat margin keuntungan produsen kian menipis dan mesin-mesin produksi terancam berhenti produksi karena stok bahan baku makin menipis.

Dia menjelaskan defisit bahan plastik tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara sejak semester II/2009. Kondisi ini terjadi sebagai dampak dari penutupan sementara pabrik pengolah bijih plastik di China, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, dan Thailand yang berlangsung sejak awal kuartal II tahun ini.

Menurut dia, beberapa perusahaan yang saat ini masih berhenti produksi di antaranya Petrochemical Secco asal China, Formosa Petrochemical (Taiwan), SK Energy (Korsel). Pada saat yang bersamaan, produksi PP oleh Siam Cement Group (Thailand) mulai berkurang dan Titan Chemical asal Malaysia berhenti operasi sementara.

“Daripada merugi karena utilisasinya rendah, produsen di lima negara tersebut memilih tutup pabrik sementara. Itu sebabnya, industri hilir plastik di Indonesia yang semula banyak mengimpor dari kelima negara tadi, sekarang susah mencari pasokan. Karena itu pengadaan bahan baku hanya mengandalkan dari dalam negeri,” kata Budi kemarin.

Ketua Umum Asosiasi Industri Hilir Plastik (Aphindo) Tjokro Gunawan berpendapat kelangkaan pasokan PP di kawasan regional Asean yang memicu kenaikan harga, sebagai sebuah kesengajaan.

“Mereka [sektor hulu] menciptakan rumor akan terjadi banjir impor bijih plastik dari Timur Tengah, sehingga hulu meminta proteksi berupa bea masuk dari pemerintah. Kondisi ini memicu reaksi yang sama dari kalangan produsen PP di Asean menaikkan harga. Anomali di pasar domestik menjadi kian tak terelakkan,” jelasnya.

Pasar baja

Sementara itu di industri baja, informasi yang diperoleh dari Middle East Steel (MESteel) menyebutkan harga baja canai panas (hot-rolled-coils/HRC) pada minggu kedua Agustus melonjak 60,7% dari posisi terendah pada Mei 2009 sebesar US$395 per ton menjadi US$635 per ton.

Kenaikan harga baja tersebut dipicu adanya peningkatan permintaan pasar seiring kondisi permintaan di kawasan Timur Tengah, China, dan sejumlah negara Asia yang mulai pulih.

Kebutuhan baja berangsur meningkat karena sejumlah proyek infrastruktur di sejumlah negara tersebut mulai menggeliat.

Sayangnya, lonjakan harga baja di dalam negeri sejauh ini masih sulit diakses oleh konsumen untuk menyerap lebih banyak.

Dampak krisis ekonomi dunia yang menggerus laba perusahaan baja domestik menyebabkan industri hilir baja kehilangan daya beli.

Sekretaris Jenderal Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) Hidajat Triseputro menjelaskan beberapa sektor yang masih tak bergairah di antaranya industri baja konstruksi seperti besi beton, profil dan pipa.

“Melemahnya permintaan dari industri konstruksi, infrastruktur dan properti menyebabkan industri baja konstruksi masih belum sepenuhnya pulih. Namun, permintaan di industri baja lapis seng (BjLS) cenderung ada peningkatan,” katanya ketika dikonfirmasi, kemarin.

Namun, Direktur Pemasaran PT Krakatau Steel (Persero) Irvan Kamal Hakim memproyeksikan produsen baja lokal akan menaikkan tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) dari 60% menjadi 90% pada Agustus 2009 seiring dengan ekspektasi pemulihan ekonomi yang lebih cepat dan kenaikan permintaan di dalam negeri. (Chamdan Purwoko) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati, Bisnis Indonesia

Sumber  : www.bisnis.com

Laba Barito tembus Rp400 miliar

11 Aug 2009
Laba Barito tembus Rp400 miliar
11-08-09

Laba Barito tembus Rp400 miliar

JAKARTA: Laba bersih PT Barito Pacific Tbk pada semester I/2009 diperkirakan menembus Rp400 miliar dibandingkan dengan posisi pada periode sama tahun lalu yang masih membukukan rugi bersih Rp372,70 miliar.

Seorang manajer investasi yang mendengar informasi itu mengatakan lonjakan harga saham Barito kemarin, perusahaan petrokimia yang dikendalikan oleh konglomerat Prajogo Pangestu, salah satunya dipicu oleh perolehan laba pada semester I tahun ini.

"Jika laba bersih semester I/2009 menembus Rp400 miliar, berarti Barito membukukan lonjakan laba 207,32% dibandingkan dengan laba semester I tahun lalu," tuturnya kepada Bisnis kemarin.

Menurut dia, salah satu faktor yang membuat kinerja Barito lebih baik adalah stabilnya permintaan etilena, propilena, dan polipropilena, ketiganya merupakan bahan baku plastik, yang ditopang oleh kenaikan harga plastik. Akibatnya, margin usaha Barito meningkat.

Berdasarkan laporan keuangan Barito per Maret 2009, Barito menguasai 70% saham PT Chandra Asri dan 77,93% saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk. Chandra Asri merupakan produsen etilena dan propilena, sedangkan Tri Polyta menghasilkan polipropilena.

Kapasitas produksi etilena mencapai 600.000 ton per tahun, sedangkan propilena mencapai 296.000 ton per tahun. Kapasitas produksi polipropilena mencapai 360.000 ton per tahun. Tri Polyta berencana menggenjot kapasitas produksi polipropilena menjadi 480.000 ton per tahun dengan investasi US$25 juta. Menurut rencana, penambahan kapasitas polipropilena, yang dimulai pada September 2009, memerlukan 2 tahun.

Ketika dikonfirmasi, Senior Vice President Investor Relations Barito Agustino Sudjono mengatakan laporan keuangan per Juni Barito masih diaudit. "Perkiraan laba semester I/2009 di kisaran itu [Rp400 miliar], tetapi pastinya menunggu laporan keuangan keluar."

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2009, Barito masih membukukan rugi bersih Rp87,66 miliar dengan pendapatan Rp2,64 triliun.

Analis Syaiful Adrian dari PT Ciptadana Securities menambahkan kinerja Barito pada semester I/2009 merupakan pembalikan dari apa yang dicapai tahun lalu.

"Barito tidak mencatat lagi write-off goodwill yang timbul dari akuisisi Chandra Asri dan tidak ada lagi write-off persediaan bahan baku, mengingat harga minyak menurun," tuturnya.

Barito pada akhir tahun lalu membukukan beban penurunan nilai goodwill senilai Rp1,56 triliun dan penurunan nilai realisasi persediaan bersih Rp376,73 miliar. Perusahaan itu membeli aset dan kewajiban Chandra Asri pada Oktober 2007 dengan goodwill, selisih antara aset bersih Chandra Asri yang dibeli berdasarkan nilai wajar dan biaya perolehan akuisisi, senilai Rp1,64 triliun.

Menurut Syaiful, tanpa adanya write-off, laba rugi Barito akan bersih, sehingga lebih mencerminkan kinerja operasional.

Margin meningkat

Sesuai dengan riset Ciptadana Securities pada 26 Mei 2009, sekuritas itu memperkirakan harga rata-rata nafta, produk turunan dari minyak mentah yang merupakan bahan baku dari etilena dan propilena, mencapai US$548 per metrik ton, turun dibandingkan dengan harga rata-rata pada tahun lalu sebesar US$913 per metrik ton. Penurunan harga nafta seiring dengan penurunan harga minyak saat ini dibandingkan dengan tahun lalu.

Harga etilena dan propilena diperkirakan naik dari US$1.190 dan US$1.200 per metrik ton tahun ini menjadi US$1.378 dan US$1.825 per metrik ton pada 2012.

Dampak dari stabilisasi harga nafta dan produk petrokimia itu, Ciptadana memperkirakan marjin laba kotor dan margin laba usaha Barito meningkat secara bertahap.

Margin kotor dan margin usaha Barito pada tahun ini diperkirakan mencapai 9% dan 4,8%, melonjak dari posisi -10,1% dan -5,8% pada tahun lalu.

Sekuritas itu mengestimasi laba bersih Barito bisa mencapai Rp785 miliar pada akhir tahun ini, melonjak dibandingkan dengan rugi bersih Rp3,40 triliun pada tahun lalu. Penjualan bersih perusahaan itu diperkirakan naik ke level Rp20,45 triliun pada tahun ini dibandingkan dengan angka tahun lalu senilai Rp18,32 triliun.

Dengan mengacu pada harga saham Barito saat ini, price to earning ratio tahun ini diperkirakan 11,9 kali. Harga saham Barito kemarin naik 13,28% ke level Rp1.450 per saham, sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai Rp10,12 triliun. (wisnu.wijaya@ bisnis.co.id)

Oleh Wisnu Wijaya, Bisnis Indonesia

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/bursa/1id132118.html

 

Harga Minyak Bisa Sentuh US$ 88-100 per Barel Sebelum Akhir 2009

05 Aug 2009
Harga Minyak Bisa Sentuh US$ 88-100 per Barel Sebelum Akhir 2009
05-08-09

Harga Minyak Bisa Sentuh US$ 88-100 per Barel Sebelum Akhir 2009

SINGAPURA. Secara teknis pemulihan minyak mentah kemungkinan akan menggiring harga minyak mentah ke level yang cukup tinggi di tahun 2009 diatas US$ 73 per barel; dan terus menjaga pasar agar tak terjungkal dibawah US$ 66 per barel. Hal ini ditegaskan oleh National Australia Bank Ltd., Rabu (5/8).

Menurut Gordon Manning, Analis Teknikal yang berbasis di Sydney, harga minyak kemungkinan akan terus membiak dan berada diatas US$ 72 per barel di New York.

Pergerakan lain kemungkinan akan meningkatkan level sokongan pasar; dan berpotensial menawarkan pintu masuk bagi trader jika memang terjadi penurunan. "Penutupan diatas US$ 72 hingga US$ 73,50 akan cukup signifikan," lata Manning.

Harga minyak berada di level US$ 72 per barel pada 3 Agustus; seiring dengan peningkatan aktivitas industrial di AS sekaligus China yang meningkatkan harapannya akan permintaan minyak yang bakal kembali pulih.

Manning mematok target harga minyak jangka panjang akan bergerak di level US$ 88 hingga US$ 100 per barel. Asal tahu saja, level itu belum pernah tersentuh kembali sejak 9 Oktober 2008. "Jika segala sesuatu berjalan dengan baik, maka saya tidak akan terkejut jika kita bisa mencapai angka itu sebelum akhir 2009," katanya.

Femi Adi Soempeno, Bloomberg

Source : Kontan Online

Govt applies new certification system

03 Aug 2009
Govt applies new certification system
03-08-09

Govt applies new certification system

Benget Besalicto Tnb.,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Mon, 08/03/2009 8:54 AM  |  Business

The government has applied a new system of standardization and legal certification for forest management and production as part of its efforts to meet the international market’s increasing demand for green and sustainably-managed products.

Hadi Daryanto, director general of forest production development at the Forestry Ministry, said last week the new system was laid out in a ministry regulation.

“The new system will be more reliable as it will be implemented by an independent institution that is more credible and professional.”

He said that under the new system, an organization called the Institution of Independent Evaluators and Verifiers (LPVI) will be tasked with issuing standardization documents for license holders of forest management units (HPH), production forests (HTI), and community forests (HTR), and with providing certification documents legalizing log and wood products made by the wood-product companies.

“The standardization documents will only apply two criteria, namely good or bad, unlike the previous documents that stated wood products were either good, medium, or bad.

“And certification documents will only state whether the products are legal or not,” he said.
The new system requires that all wood-product companies hold legal certification documents for all products sold in domestic and international markets.

He said that unlike previous agencies tasked to do the standardizing and legalizing, LPVI members would consist of mostly independent individuals representing the interests of the public.

“Two third of its members are independent and professional, while the rest come from the government,” he said.

He added the new system would come into effect on Sept. 1, 2009, with a one-year transition period until Aug. 31, 2010.

During the transition, the BRIK (Board in charge of Revitalizing the Forest Industry) and the LPI (Institution of Independent Evaluators) — whose members are mostly government officials — will maintain their responsibilities until the LPVI is ready to take over the tasks from both agencies.

The BRIK, in coordination with the ministry of trade, has until now been the body in charge of certifying wood products before exportation, while the LPI has been issuing standardization documents for license holders of forest management units (HPH), production forests (HTI) and community forests (HTR).

Until now, the international market has been weary of certification  documents issued by the government-controlled BRIK and LPI.

Source : The Jakarta Post