Back to Top
ENG | IND
MENU

Featured News



Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
25-01-21

Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19

On 25 January 2021, a subsidiary of PT Barito Pacific Tbk, PT Griya Idola, distributed food packages to the Tangerang Regency Government. The distribution of food packages is part of the Griya Idola Care program which was initiated in 2020. The assistance which collected collectively from the tenants of the Griya Idola Industrial Park industrial area is expected to help restore the economy of the communities affected by the Covid-19 Pandemic.



Latest News



Mencermati Tren Harga Minyak Naik

30 Jul 2009
Mencermati Tren Harga Minyak Naik
30-07-09

Mencermati Tren Harga Minyak Naik

JAKARTA. Harga minyak mentah dunia terus merayap. Tinggal sejengkal lagi harga minyak mentah menembus US$ 70 per barel. Kemarin, harga minyak kualitas terbaik (light sweet) jenis West Texas Intermediate di pasar komoditas New York (NYMEX), menyentuh posisi US$ 68,72 per barel pada pukul 18.52 WIB atau naik 6,41% dari akhir pekan lalu.

Dalam kondisi ekonomi normal, kita tak perlu cemas dengan kenaikan harga minyak. Bahkan, pemain saham banyak yang senang, karena saham berbau minyak menyokong sekitar 20% bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ketika harga minyak melejit, alamat harga saham berpeluang terbang.

Persoalannya, dunia sekarang masih krisis. Kenaikan harga minyak menjadi ancaman serius bagi ekonomi. Krisis yang terjadi sekarang, salah satunya diperparah kenaikan harga minyak. Tahun lalu, ketika harga minyak mencapai US$ 140 per barel, makin banyak perusahaan kolaps.

Yang jelas, kenaikan harga minyak berpeluang menaikkan harga barang dan memicu inflasi tinggi. Selanjutnya, bunga kredit perbankan turut melambung mengimbangi inflasi. Dus, aliran kredit seret, dan ekonomi bisa macet.

Bagi pemerintah, kenaikan harga minyak berarti naik pula anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM). Sejauh ini, pemerintah memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009 tetap aman meski harga minyak naik. "Dari sisi anggaran tidak ada masalah," kata Anggito Abimanyu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan, kemarin (27/7).

Kepala Divisi Pengembangan Monex Investindo Apelles Kawengian pun yakin, kenaikan harga minyak tidak akan mengganggu APBN. Soalnya, pada saat yang sama, rupiah menguat Rp 9.500 per dolar AS. "Kalau harga minyak naik dan rupiah melemah, itu baru mengganggu," imbuh Apelles.

Pengamat perminyakan Kurtubi memprediksi harga minyak mentah tahun ini akan terus naik ke level US$ 80 per barel karena optimisme pemulihan ekonomi global.

Wahyu Tri Rahmawati, Abdul Wahid Fauzi, Uji Agung Santosa KONTAN

Source : Kontan

Sektor Hilir Plastik Kurang Bahan Baku

29 Jul 2009
Sektor Hilir Plastik Kurang Bahan Baku
29-07-09

Sektor Hilir Plastik Kurang Bahan Baku

JAKARTA: Industri hilir plastik berbasis kemasan, karung, dan botol plastik di dalam negeri bakal kekurangan bahan baku berupa polipropilena (PP) hingga 325.000 ton sampai akhir tahun, akibat rendahnya pasokan domestik.

Ketua Umum Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Tjokro Gunawan menjelaskan defisit pasokan PP ini menyebabkan industri pengguna di sektor hilir kesulitan meningkatkan produksi dan penjualan.

Pada saat bersamaan, harga PP di pasar domestik melonjak 40,01% mengikuti harga internasional dari sekitar US$1.000 per ton pada Januari menjadi US$1.410 pada 27 Juli.

“Harga bahan baku [PP] di pasar domestik sangat tidak kompetitif karena naik sekitar 15% sehingga menjadi sangat mahal. Kenaikan harga PP di dalam negeri tersebut ditengarai karena mereka [produsen] sengaja memanfaatkan momentum lonjakan harga di pasar regional baru-baru ini,” kata Tjokro kemarin.

Wakil Ketua Federasi Industri Plastik Indonesia (Fiplasin) Totok Wibowo mengatakan dari total konsumsi PP sebanyak 850.000 ton per tahun, industri lokal hanya mampu memasok 61,76% dengan volume 525.000 ton sehingga terjadi defisit 325.000 ton yang terpaksa harus diimpor.

Menurut dia, total kapasitas terpasang PP di dalam negeri hanya sekitar 751.000 ton. “Sampai tahun ini, tidak ada penambahan kapasitas PP untuk membantu mengatasi defisit pasokan di dalam negeri,” katanya.

Dia mengungkapkan rendahnya kapasitas dan pasokan PP dibandingkan dengan kebutuhan pasar ditengarai mendorong PT Tri Polyta Tbk, produsen PP nasional, melakukan toll manufacturing (memanfaatkan fasilitas produksi milik perusahaan lain).

Tri Polyta, ujarnya, mengirim propilena (bahan baku pembuatan PP) ke perusahaan petrokimia di Filipina yakni J.G. Smith sebanyak 3.000–5.000 ton per bulan untuk selanjutnya diolah menjadi produk PP dan derivatifnya.

“Saya tidak tahu kenapa mereka [Tri Polyta] melakukan ini. Apakah itu untuk menambah pasokan PP di dalam negeri atau ada strategi lain, saya tidak tahu. Informasi yang kami terima seperti itu,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Senior Vice President Investor Relations Barito Pacific Tbk Agustino Sudjono membenarkan Tri Polyta mengirimkan propilena kepada J.G. Smith.

“Langkah ini hanya bersifat sementara untuk membantu mengatasi defisit pasokan PP di dalam negeri. Soal harga PP yang diproses di Filipina tentunya akan tetap mengacu pada pasar internasional,” katanya ketika dikonfirmasi Bisnis, kemarin.

Tri Polyta merupakan anak usaha Barito Pacific yang bergerak di industri petrokimia antara (midstream) sebagai penghasil PP. Barito Pacific merupakan pemegang saham mayoritas Tri Polyta sebesar 77,93%.

Tambah kapasitas

Menurut Agustino, Tri Polyta sebenarnya ingin meningkatkan kapasitas terpasang produksi PP dari 360.000 ton menjadi 460.000 ton per tahun mulai September dengan investasi US$25 juta.

“Proyek ini dijadwalkan akan diselesaikan paling cepat 18 bulan dan selambat-lambatnya 24 bulan mengingat besarnya konsumsi di dalam negeri,” katanya.

Tjokro menambahkan harga bahan baku plastik saat ini mengalami kenaikan menyusul penerapan Peraturan Menteri Keuangan No. 19/2009 tentang Penetapan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor Produk-produk Tertentu, di mana impor PE, PP, dan ABS, dikenai bea masuk 10%.

Pengenaan tarif BM ini menyebabkan harga bahan baku plastik dari impor menjadi sama mahalnya dengan harga di pasar domestik.

“Akibat dari pengenaan BM tersebut kami kehilangan akses untuk mendapatkan bahan baku yang kompetitif,” katanya.

Menurut dia, hampir separuh dari perusahaan hilir plastik yang berjumlah sekitar 6.000 unit usaha, nyaris kesulitan berproduksi.

Wakil Ketua Fiplasin Felix S. Hamidjaja menjelaskan akibat defisit pasokan PP, industri hilir plastik tidak mampu mendongkrak omzet signifikan selama pelaksanaan pemilu legislatif dan pemilu presiden. “Malah sebaliknya banyak perusahaan mengalami kerugian.” (Chamdan Purwoko) (yusuf.waluyo@bisnis.co.id)

Oleh Yusuf Waluyo Jati, Bisnis Indonesia

http://web.bisnis.com/edisi-cetak/edisi-harian/manufaktur/1id130068.html

 

Chandra Asri Bangun Pabrik US$ 80 Juta

16 Jul 2009
Chandra Asri Bangun Pabrik US$ 80 Juta
16-07-09

Chandra Asri Bangun Pabrik US$ 80 Juta

Oleh Zakiyah

Cilegon – Perusahaan Petrokimia Nasional, PT Chandra Asri, berencana membangun dua baru pabrik untuk memproduksi butadiene dan benzena extraction  (BTX) senilai US$ 80 juta pada tahun depan. Anak usaha dari PT Barito Pacific Tbk itu akan membangun dua pabrik baru tersebut di Cilegon, Banten.

Investor Relations PT Barito Pacific Tbk Agustino Sudjono menjelaskan, induk maupun anak perusahaan sedang mempersiapkan dana internal untuk pembangunan dua pabrik tersebut. "Ini sudah menjadi agenda corporate action perseroan tahun depan," paparnya menjawa Investor Daily di sela media visit pabrik Chandra Asri di Cilegon, Rabu (15/7).

Agustino menjelaskan, nilai investasi pabrik itu direvisi dari prediski yang dirumuskan tahun lalu senilai US$ 120 juta menjadi hanya US$ 80 juta. Revisi ini disebabkan penurunan harga baja yang merupakan bahan utama pembangunan instalasi pabrik.

Selain itu, lanjut dia, revisi tersebut dipengaruhi penurunan proyeksi biaya pengerjaan instalasi pabrik yang akan diserahkan kepada kontraktor. Dari alokasi dana US$ 80 juta itu, 20% di antaranya akan diperuntukkan bagi pembangunan fasilitas tangki penyimpanan nafta.

Menurut dia, Chandra Asri mempertimbangkan pembangunan fasilitas produksi baru mengingat pengguna dari produk yang akan dihasilkan sangat banyak di dalam negeri dan tidak ada kompetitornya. "Pembangunan kedua pabrik ini akan menjadi nilai tambah bagi penyerapan tenaga kerja," tuturnya.

Sedangkan rencana perseroan untuk menambah unit pabrik pengolah (cracker) etilena guna menutupi kekurangan pasokan dalam negeri sekitar 500 ribu ton, Agustino menjelaskan, perseroan belum memberikan prioritas bagi rencana tersebut. Pasalnya, dibutuhkan dana sedikitnya US$ 1-1,5 miliar untuk pembangunan satu unit pabrik pengolah etilena dengan kapasitas paling efisien yakni 1 juta ton. Dana tersebut dirasakan terlalu besar bagi rencana aksi perseroan dalam jangka pendek. "Selain itu harga polietilena juga naik turun, tidak stabil," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager Process Technology PT Chandra Asri Helmilus M menambahkan, selama ini butadiene merupakan bahan baku karet sintetis. "Dari olefin C4 diolah menjadi butadiene. Kemudian baru diproses kembali sehingga menghasilkan karet sintetis," ucapnya.

Menurut dia, Industri ban di dalam negeri membutuhkan sedikitnya 680 ribu ton karet sintetis pertahun. Karet sintetis biasnya dicampur dengan karet alam untuk menghasilkan ban kendaraan.

Sumber: Investor Daily, 16 Juli 2009
 

Kinerja Perusahaan Bahan Plastik Membaik

11 Jun 2009
Kinerja Perusahaan Bahan Plastik Membaik
11-06-09

Kinerja Perusahaan Bahan Plastik Membaik

JAKARTA – Perusahaan petrokimia, PT Tri Polyta Indonesia Tbk, memperkirakan kinerja perseroan tahun ini akan membaik menyusul masih ketatnya pasokan bahan baku plastik, polipropilena dipasar domestik saat ini dan turunnya biaya bahan baku. Margin produksi hingga akhir semester I-2009 diprediksi sekitar 300 dollar AS per ton.

Direktur pemasaran Tri Polyta Indonesia, Jeanne Watulo, mengatakan permintaan pasar nasional untuk polipropelina masih sangat bagus dan pasokan masih sangat terbatas “Berapapun kami produksi masih akan terserap oleh pasar, karena penggunaan di dalam negeri terus membaik sedangkan pasokan relatif berkurang,” kata dia, Rabu (10/8).

Membaiknya kinerja 2009 tercermin sejak tiga bulan pertama tahun ini. Pendapatan perseroan pada triwulan I-2009 hanya turun tipis empat persen menjadi 1,2 triliun rupiah, sedangkan laba bersih melesat 240 persen menjadi 192,8 miliar rupiah.

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Tri Polyta Indonesia, Suryandi, mengatakan realisasi tersebut didukung oleh volume penjualan polipropilena pada triwulan I-2009 yang mencapai 108.230 metrik ton. Meski harga jualnya turun 39 persen menjadi 948 dollar AS permetrik ton.

Selain itu, lanjut dia, biaya pembelian bahan baku juga turun lebih dalam sebesar 54 persen menbjadi 640 dollar AS. Hasilnya, margin produksi polipropilena naik 48,5 persen menjadi 308 dollar AS per metrik ton.

Volume Penjualan

Menurut Suryandi, volume penjualan hingga akhir juni 2009 diperkirakan bisa mencapai 200 ribu metrik ton, sementara sepanjang tahun ini diharapkan tumbuh 3 persen menjadi 340 ribu metrik ton. “Sedangkan margin per ton diperkirakan mampu dipertahankan sebesar 300-an dollas AS,” kata dia.

Dengan asumsi volume penjualan dan margin tersebut, laba kotor perseroan pada semester pertama tahun ini diperkirakan bisa mencapai 600 miliar rupiah.

Menurut Jeanne, margin produksi pada tiga bulan terakhir itu tergerus menjadi minus 167 dollar AS per ton.

Hal ini, lanjut dia, akibat pembengkakan biaya propilena menjadi sebesar 1.088 dollar AS per ton. Padahal harga jual polipropilena anjlok menjadi 921 dollar AS per ton seiring anjloknya harga minyak mentah dunia yang sempat di level 30 dollar AS per barel. Konsumen mengurangi pembelian dan pemasokan bahan baku bahkan sempat berhenti produksi. Hal ini juga membawa Tri Polyta menunda penambahan kapasitas pruduksi.

Namun, kondisi yang membaik  membuat perseroan kembali melanjutkan rencana tersebut. Kapasitas produksi akan ditambah 100 ribu metrik ton menjadi 460 metrik ton pada akhir 2010. Sedangkan biayanya sekitar 25 juta dollar AS didanai dari kas internal.

Sekjen Asosiasi Industri Olefin & Plastik Indonesia (IN-Aplas), Budi Susanto Sudiman, sebelumnya mengatakan bisnis petrokimia sangat tergantung stabilitas harga minyak mentah dunia. Namun, dalam kondisi normal pertumbuhan industri ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Dia melanjutkan, permintaan domestik untuk polipropilena masih cukup besar. Pasalnya, kapasitas produksi terpasang nasional yang saat ini 580 ribu ton belum mencukupi kebutuhan yang sekitar 750 ribu per metrik ton. (Did/E7)

Sumber: Koran Jakarta, 11 Juni 2009
 

Barito, Emiten Lama yang Muncul Kembali

07 Jun 2009
Barito, Emiten Lama yang Muncul Kembali
07-06-09

Barito, Emiten Lama yang Muncul Kembali

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) berdiri pada tanggal 4 April 1977.  Perusahaan ini baru resmi melantai di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) pada 1 Oktober 1993. Kala itu Barito menawarkan saham perdananya diharga Rp. 7.200 per saham. Mereka menunjuk PT Makindo sebagai penjamin pelaksana emisi (underwriter).

Barito melepas 85 juta saham dan berhasil meraup dana hingga Rp 612 miliar. Sayang menjelang tahun 2000-an, harga saham Barito terus turun seiring meredupnya bisnis kayu.

Namun sejak BRPT menerbitkan saham baru (rights issue) dan melakukan ekspansi saham itu mulai menggeliat kembali. Bahkan saham BRPT sempat menyentuh harga tertinggi Rp 2.850 persaham pada tanggal 2 Januari 2008 lalu.

Sayangnya, kondisi bursa saham yang tak menentu membuat harga saham BRPT kembali terpuruk. Jumat kemarin (6/6), saham BRPT hanya dihargai Rp 1.880 per saham. (Angga Aliya)

Sumber: Harian Kontan, 7 Juni 2008