Back to Top
ENG | IND
MENU

Featured News



Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
25-01-21

Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19

On 25 January 2021, a subsidiary of PT Barito Pacific Tbk, PT Griya Idola, distributed food packages to the Tangerang Regency Government. The distribution of food packages is part of the Griya Idola Care program which was initiated in 2020. The assistance which collected collectively from the tenants of the Griya Idola Industrial Park industrial area is expected to help restore the economy of the communities affected by the Covid-19 Pandemic.



Latest News



Barito Bakal Membangun Pabrik Butadiene

02 Jun 2009
Barito Bakal Membangun Pabrik Butadiene
02-06-09

Barito Bakal Membangun Pabrik Butadiene

JAKARTA. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terus berusaha menghasilkan produk yang lebih menguntungkan. Salah satunya, Barito berniat membangun sebuah pabrik penghasil butadiene, yakni bahan baku karet sintetis untuk ban. Nilai investasi pabrik ini mencapai US$ 80 juta atau sekitar Rp 821,04 miliar.

Jika rencana itu terlaksana, pabrik tersebut akan menjadi pabrik butadiene pertama di Indonesia. Untuk mewujudkannya, Barito akan menggandeng mitra asing.

Artinya, Barito akan berbagi kepemilikan dengan mitranya. Tapi, belum ada kesepakatan mengenai porsi kepemilikan masing-masing pihak. “Mudah-mudahan tahun ini sudah final sehingga pembangunan bisa dimulai tahun depan,” ungkap Agustino Sudjono, Hubungan Investor Barito Pacific, Senin (1/6).

Barito juga akan berekspansi ke usaha bebasis sumber daya alam. Karena itu BRPT kini mengincar PT Star Energy. “Yang pasti, kami berharap kami menjadi pemegang saham pengendali Star Energy,” ujar Loeki S. Putera, President Direktur Barito.

Seperti Anda ketahui, Barito semula bergerak dibidang usaha perkayuan. Tapi seiring dengan bisnis perkayuan yang meredup, perusahaan ini memutar haluan ke bisnis petrokimia.

Langkah pertamanya adalah mengakuisisi PT Chandra Asri pada Desember 2007. Enam bulan kemudian, Barito mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia, yang merupakan produsen polypropylene.

Setelah mencaplok dua perusahaan itu Barito kini menghasilkan empat produk petrokimia. Tapi, malang bagi Barito. Harga bahan baku empat produk itu melambung.

Sedangkan harga jual dua produknya jatuh. Akibatnya, tahun lalu, Chandra Asri dan Tri Polyta masih menderita kerugian.

Tahun ini, PT Barito menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 37 juta. Dana ini untuk keperluan operasional Tri Polyta dan Chandra Asri, masing-masing sebesar US$ 25 juta dan US$ 12 juta.

Barito menargetkan pemasukan dari Chandra Asri bisa menopang 80% total pendapatan Barito tahun ini. Sementara, sisanya berasal dari penghasilan Tri Polyta. (Ade Jun Panjaitan)
 

Sumber: Harian Kontan, 2 Juni 2009, http://www.kontan.co.id/index.php/investasi/news/14742/Barito_Bakal_Bangun_Pabrik_Penghasil_Butadiene_US_80_Juta

Barito Incar Saham Ashmore di Star Energy

02 Jun 2009
Barito Incar Saham Ashmore di Star Energy
02-06-09

Barito Incar Saham Ashmore di Star Energy

Oleh Devina Chuo dan Myrna Agata Riyanto

JAKARTA – PT Barito Pacific Tbk berniat menguasai mayoritas saham Star Energy Mining secara bertahap. Selain akan membeli 40% saham milik Prajogo Pangestu di Star Energy, Barito mengincar 30% saham perusahaan itu yang dikuasai Ashmore Investment.

Sumber Investor Daily menyebutkan, Barito Pacific berencana mengakuisisi lebih dulu sebesar 40% saham milik Prajogo Pangestu pada akhir tahun 2009. Selanjutnya, perseroan berencana mengakuisisi maksimal 30% saham Star Energy lainya dari Ashmore Invesment. “Setelah itu Ashmore masuk sebagai pemegang saham Barito Pacific,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, senin (1/6).

Senior Vice President Investor Relations Barito Pacific Agustino Sudjono mengakui, akuisisi saham PT Star Energy akan dirampungkan tahun ini. Perseroan tengah bernegosiasi untuk membeli mayoritas saham Star Energy pada level semua pemegang saham. "Kami targetkan proses akuisisi Star Energy kelar tahun ini. Persentasenya sedang diperhitungkan, yang pasti mayoritas," ujarnya.

Dia menambahkan, pihaknya belum dapat memberitahukan secara detail rencana akuisisi Star Energy. "Soalnya masih dalam proses pembicaraan. Kalau sudah waktunya, pasti kami publikasikan," tandas dia.

Barito Pacific sempat berniat menyelesaikan akuisisi Star Energy pada akhir 2008. namun rencana itu ditunda terkait krisis ekonomi global. Nilai total aset Star Energy diperkirakan mencapai Rp. 10 triliun. Dengan asumsi mengincar minimal 51% saham, Barito akan menginvestasikan dana sedikitnya Rp. 5,1 triliun di Star Energy.

Komisaris Utama Barito Pacific Prajogo Pangestu pernah mengatakan, pihaknya berniat menerbitkan saham baru (rights issue) untuk mendanai akuisisi Star Energy. "Soal itu kami belum bisa jawab, nanti dipublikasikan lebih lanjut," kata Wakil Direktur Utama Barito Pacific Agus Salim Pangestu kepada Investor Daily.

Capex US$ 37 juta

Agustino Sudjono juga mengungkapkan, Barito Pacific menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 37 juta. Dari jumlah itu, US$ 25 juta di antaranya untuk meningkatkan kapasitas pabrik anak usaha, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA). Sisanya digunakan untuk perawatan PT Chandra Asri. "Proses peningkatan kapasitas pabrik Trypolita diperkirakan berlangsung 18 bulan,” tuturnya.

Dia menambahkan, capex tersebut dialokasikan sepenuhnya kepada anak-anak perusahaan karena PT Chandra Asri telah mengontribusi 86% terhadap pendapatan konsolidasi perseroan tahun silam. Sedangkan Try Polyta mengontribusi 13% pendapatan konsolidasi, dan 1% lainnya dari unit usaha kayu Barito.

Agustino menjelaskan, Barito juga mengurangi dana investasi pembangunan pabrik butadiene oleh Chandra Asri dari sebelumnya sekitar US$ 120 juta atau Rp. 1,44 triluin menjadi US$ 80 juta. Itu dilakukan menyusul turunnya harga bahan baku.

"Pembangunan ini sudah memasuki tahap kedua. Tahap pertama pada 2007 dan awal 2008. kami harapkan rampung dalam 18-24 bulan ke depan. Dengan adanya pabrik baru tersebut, kata dia, produksi perusahaan diharapkan bertambah 600-700 ribu ton," paparnya.

Barito Pacific membukukan rugi bersih konsolidasi Rp. 3,39 triliun pada tahun buku 2008, turun 107, 62% dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2007, perseroan membukukan laba bersih Rp 44,5 miliar. Pada kuartal I-2009, Barito Pasific membukukan pendapatan bersih Rp 2,64 triliun, turun dibanding periode sama 2007 sebesar Rp 4,38 miliar.

Menurut analisis PT Ciptadana Sekuritas Syaiful Adrian, akuisisi Star Energy akan menurunkan kas perusahaan dari sebelumnya di atas Rp 2 triliun menjadi Rp 1,5 triliun. "Tapi akuisisi itu juga sekaligus akan meningkatkan kinerja perusahaan," ujarnya.

Syaiful memperkirakan laba bersih Barito Pacific pada akhir 2009 mencapai Rp 300 miliar seiring turunnya harga nafta dan mulai beralihnya perusahaan menggunakan energi gas elpiji. "Prediksi itu belum termasuk penambahan pemasukan perusahaan apabila mengakuisisi Star Energy," ucapnya.

Sumber: Investor Daily, 2 Juni 2009

 
 

Prajogo Pangestu Ingin Kuasai Saham Star Energy

02 Jun 2009
Prajogo Pangestu Ingin Kuasai Saham Star Energy
02-06-09

Prajogo Pangestu Ingin Kuasai Saham Star Energy

Konglomerat Prajogo Pangestu ingin menjadi pemegang saham mayoritas di PT Star Energy. Disinyalir, langkah ini untuk menjaga stabilitas keuntungan di bisnis minyak mentah dunia.

ADALAH PT Barito Pasific Tbk (BRPT) milik Prajogo yang berencana mengakuisisi saham PT Star Energy. Barito mengincar posisi sebagai pemegang saham pengendali.

Investor Relation Barito Pacific Agustino Sudjono menuturkan proses akuisisi terus digodok dan dijajaki. "Kita inginkan saham mayoritas, kalau bisa saham pengendali," katanya setelah paparan publik Barito Pacific di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, kemarin.

Agustino menambahkan, pembicaraan mengenai akuisisi tersebut masih dalam tahap pembicaraan. Namun, dirinya berjanji akan segera mengumumkan jika telah ada kejelasan.

"Kami perkirakan proses akuisisi akan selesai akhir tahun ini," ujar Agustino.

Menurut Wakil Dirut Barito Pacific Agus Salim Pangestu, rekam jejak perseroan mencatat adanya akuisisi setiap tahun.

Saat ini, Prajogo menguasai 40 persen saham Star Energy setelah membeli dari pendiri Star Enery lainnya Supramu Santoso. Sisanya, dimiliki Nusantara Capital sebesar 30% dan perusahaan keuangan asal London 30 persen.

Sedangkan pemegang sahama Barito berdasar data BEI, Prajogo menguasai 0,42 persen secara langsung dari 55,79 persen secara tidak langsung melalui Magna Resources Corp Pte Ltd (52,13 persen) dan PT Barito Pasific Lumber Company (3,66 persen). Sedangkan PT Tunggal Setia Pratama menguasai 3,52 persen, PT Muktilestari Kencana 0,23 persen dan publik 40,03 persen.

"Kami maunya pengendali," ujar Agustino saat dikonfirmasi apakah perseroan hanya berniat mengalihkan saham milik Prajogo di Star Energy ke Barito.

Informasi rencana pembelian 51 persen saham Star Energy senilai Rp 5,1 triliun (555 juta dolar AS) oleh Barito ini untuk menambah pundi-pundi uang di bisnis minyak dan gas. Sebelumnya, Barito juga membeli 76 persen saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA).

Rencana Barito mengakuisisi Star Energy kabarnya juga untuk menjaga stabilitas margin di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia. Minyak merupakan bahan mentah untuk produk petrokimia yang sangat strategis. (DIN/TYA)

Sumber: Rakyat Merdeka, 2 Juni 2009
 

Barito Cari Mitra Strategis

02 Jun 2009
Barito Cari Mitra Strategis
02-06-09

Barito Cari Mitra Strategis

PT Barito Pacific Tbk menjajaki kemitraan dengan pemodal asing untuk membentuk perusahaan patungan dalam rangka pembangunan pabrik pengurai butadiene senilai US$80 juta.

Wakil Direktur Utama PT Chandra Asri, anak usaha Barito Pacific, Andry Setiawan mengatakan manajemen sedang membicarakan kebutuhan pendanaan pembangunan pabrik itu dengan mitra internasional.

"Sekarang ini dalam tahap penjajakan [dengan calon mitra. Kami berharap tahun depan bisa memulai proyek ini. Untuk kebutuhan pendanaannya karena harga [barang] masih volatil kemungkinan US$80 juta. Kami butuh pendanaan dari luar," tuturnya saat paparan publik, kemarin.

Pembangunan pabrik ini akan menambah rantai bisnis petrokimia Barito Pacific, selain yang sudah ada saat ini melalui unit usahanya Chandra Asri dan PT Tri Polyta Indonesia Tbk yang memproduksi etilena dan polipropilena.

Andry menambahkan jika perusahaan patungan sudah terbentuk, pembangunan pabrik direncanakan selesai dalam 18--24 bulan. Pembangunan pabrik pengurai butadiene ini akan meningkatkan kapasitas produksi etilena Chandra Asri menjadi 700.000 ton dalam 2--3 tahun mendatang dari saat ini 600.000 ton.

Butadiene adalah bahan baku untuk pembuatan serat sintetis ban. Menurut dia, nilai investasi untuk pembangunan pabrik itu turun dari semula US$90 juta.

 Pudji Lestari

Sumber: Bisnis Indonesia

Prajogo Bersiap Garap HTI di Jambi

18 May 2009
Prajogo Bersiap Garap HTI di Jambi
18-05-09

Prajogo Bersiap Garap HTI di Jambi

Jakarta: Taipan papan atas Prajogo Pangestu mulai melirik kembali usaha perkayuan dengan mengajukan permohonan mengelola hutan tanaman industri (HTI) seluas 70.000 hektare di Jambi.

“Sebelumnya Pak Projogo pernah menajukan permohonan seluas 1 juta ha, tetapi permohonannya ditolak karena tidak memenuhi syarat teknis yang ditetapkan. Tapi, sekarang ini atas nama istrinya (Herlina Tjandinegara) sebagai komisaris perusahaan telah melakukan ekspose di Departemen Kehutanan,” ujar Direktur Bina Pengembangan Hutan Tanaman Dephut Bejo Santosa pekan lalu.

Dia mengatakan konglomerat yang pernah menguasai areal seluas 2,7 juta ha itu disarankan memulai lagi usaha sektor kehutanan dengan skala kecil.

“Saya sarankan kepada istri Pak Projogo untuk memulai usaha ini kembali dimulai dari yang berskala kecil dululah, kalau memang berhasil akan dikembangkan yang lainnya,” ujarnya.

Namun permohonan untuk mengelola HTI itu masih dalam tahap awal belum ada persetujuan yang ditanda tangani pejabat Dephut.

“Tahapnya masih awal, yakni masih sebatas ekspose areal yang dimohonkan untuk ditanam. Jadi belum sampai pada tahap persetujuan para pejabat di lingkungan Dephut,” tambahnya.

Selain permohonan pengelolaan hutan yang diajukan Projogo, sejak Januari hingga 15 Mei 2009, Dephut telah mengeluarkan surat keputusan (SK) definitif terhadap enam perusahaan yang dinyatakan berhak memperoleh izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan tanaman industri (IUPHHK-HTI)

Menurut dia, ke enam perusahaan itu sudah diperbolehkan melakukan penanaman dan membayar kewajiban iuran IUPHHK-HTI kepada pemerintah.

“Sejak diterbitkan izin definitif itu mereka sudah berkewajiban membayar iuran IUPHHK-HTI,”.

36 Perusahaan lagi

Bejo menjelaskan masih terdapat 36 perusahaan lagi yang masih dalam proses pengurusan izin. “Ke 36 perusahaan itu masih diwajibkan untuk membuat analisis dampak lingkungan di areal yang akan dikembangkan HTI.”

Dia menyebutkan Dephut berharap swasta dapat mengembangkan HTI diantaranya Sinar Mas seluas 300.000 hektare, Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) 250.000 ha dan Medco diperkirakan menanam 40.000 hektare.

“Dengan target ketiga perusahaan besar itu menanam dengan luas tersebut, ditambah dengan perusahaan yang lainnya, diharapkan target HTI tersisa 800.000 hektare bisa dipenuhi hingga akhir 2009 sehingga luasnya mencapai 5 juta hektare,” tutur Bejo. (erwin.tambunan@bisnis.co.id)

Sumber: Bisnis Indonesia, 18 Mei 2009