Back to Top
ENG | IND
MENU

Featured News



Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19
25-01-21

Griya Idola Helps Community Affected by Covid-19

On 25 January 2021, a subsidiary of PT Barito Pacific Tbk, PT Griya Idola, distributed food packages to the Tangerang Regency Government. The distribution of food packages is part of the Griya Idola Care program which was initiated in 2020. The assistance which collected collectively from the tenants of the Griya Idola Industrial Park industrial area is expected to help restore the economy of the communities affected by the Covid-19 Pandemic.



Latest News



Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan

20 Jun 2008
Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan
20-06-08

Barito Pacific Telah Alihkan Fokus Bisnis; Akuisisi untuk Naikkan Pendapatan

Jakarta – PT Barito Pacific Tbk akan menerbitkan surat utang senilai 200 juta dollar AS untuk mengakuisisi 75,95 persen saham Tri Polyta dan melakukan tender offer atas 24,05 persen sisa saham Tri Polyta.

Nilai akuisisi 75,95 persen saham Tri Polyta milik Newport Global Investment dan Prajogo Pangestu itu mencapai 11,27 triliun rupiah atau 2,289 rupiah perlembar saham.

Wakil President Investor Relation Agustino Sudjono mengatakan surat utang yang diterbitkan oleh UBS Singapura itu diminati oleh Magna Resources Corporation Pte Ltd. Surat utang bertenor tiga tahun itu menawarkan bunga 11 persen per tahun.

Try Polyta merupakan produsen polypropylene terbesar di Indonesia. Kapasitas produksi pabriknya 360 ribu – 380 ribu ton. Perusahaan akan meningkatkan lagi kapasitasnya sebesar 100 ribu ton.

“Masuknya Tri Polyta ke tubuh Barito diperkirakan dapat mengdongkrak pendapatan perusahaan sekitar 25 – 30 persen,” katanya, Kamis (19/6).

Tahun lalu, Barito telah mengakuisisi PT Chandra Asri yang memproduksi olefin, bahan baku pembuat plastik. Olefin adalah produk turunan pertama dari naptha. Namun, kenaikan harga minyak bumi yang disusul oleh naptha membuat beban Chandra Asri melonjak dan merembet ke perusahaan induk.

Kontribusi Keuntungan


Chandra Asri menyumbang 98 persen dari pendapatan Barito. Sehingga kuartal I-2008, Barito mengalami kerugian hingga 20 kali lipat dibanding kuartal I-2007. Kerugian perusahaan melonjak menjadi 183,19 miliar rupiah, padahal pendapatan melesat hingga 4,38 triliun rupiah.

Untuk mengantisipasi lonjakan bahan baku, Chandra Asri menaikkan harga jual produksinya sebesar 10 – 15 persen. Bisnis Petrokimia memberikan kontribusi sebesar 98 persen dari pendapatan, sementara bisnis kayu hanya 2 persen. Sulitnya mencari bahan baku dan kenaikan BBM memaksa pengelola 110,32 hektar HTI ini mengurangi kegiatan anak usahanya PT Tunggal Agathis Indah Wood Industries.

Sementara di industri plastik yang mengosumsi produk petrokimia, Direktur PT Dynaplast Tbk Andi Hartanto, mengeluhkan kenaikan harga bahan baku karena tidak bisa menaikan harga jual produknya sembarangan.

“Lonjakan harga minyak membuat bahan baku meningkat, tetapi pengusaha tidak bias menaikan harga jual seenaknya,” katanya.   

Sejak Januari, harga bahan baku plastic polypropylene telah menanjak 35 persen dan polytilene naik  20 persen. Perusahaan tersebut mendatangkan bahan baku dari dalam dan luar negeri.

Terkait dengan kenaikan harga itu, Dynaplast berniat mengubah perjanjian harga dengan konsumen. Selama ini perjanjian dengan pelanggan dilakukan setiap tiga bulan sekali. Sehingga jika harga bahan baku meningkat terus menerus perusahaan akan merugi karena harga yang dipakai adalah harga kuartal sebelumnya. (Xax/E-7)

Sumber: Koran Jakarta, 20 Juni 2008
 

Barito Gets Approval to Sell $ 200 Million Bonds to Buy Polyta

19 Jun 2008
Barito Gets Approval to Sell $ 200 Million Bonds to Buy Polyta
19-06-08

Barito Gets Approval to Sell $ 200 Million Bonds to Buy Polyta

June 19 (Bloomberg) – PT Barito Pacific, which controls Indonesia’s only ethylene maker, won approval from shareholders to sell $ 200 million of bonds to its parent and use the proceeds to buy petrochemical producer PT Tri Polyta Indonesia.

The Jakarta – based company will sell the three-year bonds to Magna Resources Corp., which owns 52 percent of Barito, and may complete the transaction by June 23, Director Henky Susanto told reporters today. Magna is controlled  by Prajogo Pangestu, one of Indonesia’s richest men, according to Forbes Magazine.

Barito is switching to the petrochemical business from plywood-making to benefit from rising demand for chemicals. Prices of polypropylene, used to make food packaging and plastic utensils, have gained 35 percent this year on more orders from India and China.

The company plant to buy 76 percent of Tri Polyta for $ 136.5 million from Newport Global Investment Ltd. and Pangestu. Barito will offer to buy the remaining Tri Polyta shares using the proceeds from the bond sale, Susanto said.

Agustino Sudjono, Barito’s vice president for investor relations, said the company plans  to start including Tri Polyta in its balance sheets from September. He expects Barito’s sale to rise  between 25 percent and 30 percent this year.

Tri Polyta buy most of its raw materials from Barito unit PT Chandra Asri.

To Contact the reporters on this story : Naila Firdausi in Jakarta at nfirdausi@bloomberg.net ; Yoga Rusmana in Jakarta at yrusmana@bloomberg.net

Barito Dapat Restu Terbitkan Surat Utang US$ 200 Juta

19 Jun 2008
Barito Dapat Restu Terbitkan Surat Utang US$ 200 Juta
19-06-08

Barito Dapat Restu Terbitkan Surat Utang US$ 200 Juta

Indro Bagus SU - detikFinance

Jakarta - Pemegang saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyetujui rencana penerbitan surat utang sebesar US$ 200 juta terkait akuisisi 75,95% saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Rencananya surat utang tersebut akan diterbitkan melalui UBS AG Singapura yang juga telah mendapat peminat untuk mendanai akuisisi Tri Polyta yaitu Magna Resource Corporation Pte Ltd.

Demikian diungkapkan oleh Investor Relations BRPT, Agustino Sudjono usai RUPSLB di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (19/6/2008).

Penerbitan surat utang terakhir (closing date) dilakukan 23 Juni 2008. Surat utang itu memiliki tenor 3 tahun dengan bunga 11% per tahun dan dibayarkan setiap enam bulan.

Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk akuisisi Tri Polyta 75,95% yang nilainya sebesar US$ 136,461 juta atau sebesar Rp 1,266 triliun dengan menggunakan kurs 9.280 per dolar AS pada harga Rp 2.289 per saham.

Pembelian saham Tri Polyta oleh Barito tersebut sebesar 64,65% melalui New Port Global Investment Ltd dan 11,3% oleh Prajogo Pangestu. "Sisa dana perolehan surat utang itu untuk pelaksanaan tender offer dan sebagaimana terkait akuisisi ini," katanya.

Penyelesaian proses akuisisi diharapkan rampung September 2008 sehingga tender offer ditargetkan dilakukan setelah itu.

Selain persetujuan akuisisi, RUPSLB juga menyetujui proses restrukturisasi utang kepada Bank Mandiri yang telah dilakukan pada Oktober 2007 yaitu sebesar US$ 19,825 juta. "Ini diperpanjang sampai 2016," tukas Agustino.

Sumber: Detik.com
 

Barito Targetkan Penjualan Tumbuh 30%

19 Jun 2008
Barito Targetkan Penjualan Tumbuh 30%
19-06-08

Barito Targetkan Penjualan Tumbuh 30%

oleh : Pudji Lestari

JAKARTA (Bisnis.com): PT Barito Pacific Tbk menargetkan penjualan tahun ini tumbuh minimal 25%-30% menyusul akuisisi 75,95% saham PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Investor Relations Barito Agustino Sudjono mengatakan RUPS luar biasa yang digelar hari ini menyetujui rencana pengambilalihan mayoritas saham produsen polypropylene itu.

Sehubungan dengan akuisisi tersebut, perseroan akan menerbitkan surat utang senilai US$200 juta melalui UBS AG cabang Singapura. Magna Resources Corporation Pte Ltd telah menyatakan minat untuk membeli seluruh surat utang itu.

Agustino menyatakan transaksi surat utang diharapkan dapat ditutup pada Senin pekan depan. Surat utang berjangka waktu tiga tahun itu menawarkan kupon sebesar 11% per tahun, dengan pembayaran pokok pada akhir tahun ketiga dan pembayaran bunga setiap satu semester.

"Akuisisi Tri Polyta diharapkan dapat memperluas investasi perseroan di industri petrokimia sekaligus meningkatkan produksi petrokimia yang bermargin tinggi," tuturnya saat paparan publik seusai RUPS siang ini. 

Tri Polyta diharapkan menyumbang 25%-30% terhadap pendapatan konsolidasi Barito Pacific. Seiring dengan asumsi itu, pertumbuhan penjualan diharapkan mencatatkan tingkat pertumbuhan yang sama. Rapat juga menyetujui usulan manajemen untuk menahan seluruh laba bersih sebagai modal kerja perseroan.(tw)
bisnis.com

Sumber: Bisnis.com

Menatap Wajah Baru Barito Pacific

07 Jun 2008
Menatap Wajah Baru Barito Pacific
07-06-08

Menatap Wajah Baru Barito Pacific

JAKARTA Nama PT Barito Pacific Tbk (BRPT) kembali muncul kepermukaan tahun ini. Maklum, berbagai aksi korporasi  perusahaan ini telah menyedot perhatian  para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sedikit kilas balik, dahulu perusahaan yang didirikan Prajogo Pangestu itu hanya menggeluti bisnis kayu. Kala itu, emiten saham berkode BRPT itu masih menyandang nama PT Barito Pacific Timber Tbk. Di zaman keemasannya, Barito memiliki lima pabrik pengelolahan kayu. Pasar Barito sangat luas, mulai dari wilayah Asia, Eropa, sampai Amerika.

Namun krisis moneter di 1997 telah membuat nama Barito tenggelam. Tahun itu Barito terpaksa menutup dua pabrik pengelolahan kayunya. Pabrik Barito hanya tersisa tiga, yaitu di Kalimantan Tengah dan Maluku Utara. Kenerja Barito pun sempat babak belur seiring meredupnya bisnis kayu.

Beragamnya Bisnis BRPT

Kini Barito mencoba bangkit dan tampil dengan wajah baru. Tak lagi bersandar pada bisnis kayu, Barito melebarkan sayapnya ke berbagai bisnis lain. Sebagai langkah awal, 11 Desember 2007, BRPT menerbitkan saham baru  (rights issue) senilai Rp. 9,161 triliun (US$ 985 juta). Barito memakai dana rights issue itu untuk mengakusisi perusahaan pengelolahan bahan kimia PT Chandra Asri.

Barito merogoh US$ 722,4 juta untuk membeli 48,16% saham Chandra Asri dari Strategic Investment Holding Ltd. BRPT juga mengucurkan US$ 108,7 juta untuk membeli 100% saham Marigold Recources yang merupakan pemilik 7,24% saham Chandra Asri. Lantas Barito menggunakan sekitar US$ 144 juta untuk membeli 14,6% saham Chandra Asri milik Inter Petrindo Inti Citra. Artinya Barito menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 70% di Chandra Asri.

Vice President Investor Relations Barito Agustino Sudjono menyatakan, akuisisi itu telah menambah sektor bisnis Barito. “Untuk itu, kami sepakat menghilangkan kata “Timber” pada nama perusahaan,” katanya.

Ekspansi Barito tak berhenti disitu. Perusahaan ini juga berencana mengakuisisi perusahaan pengolah petrokimia polypropylene terbesar di Indonesia, yakni PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPIA).

Selama ini Chandra Asri adalah pemasok bahan baku bijih plastik buatan TPIA. “Akuisisi ini membuat bisnis kami terkonsolidasi,” kata Agustino.

Rencananya Barito akan membeli 75,95% saham TPIA dari Newport Global Investment Ltd diharga Rp. 2.289 persaham. Dus, nilai transaksi ini mencapai 1,27 triliun. Untuk memuluskan hajatan itu, Barito akan menerbitkan surat utang tanpa jaminan senilai US$ 200 juta. Magna Resources Corporation Pte Ltd sudah bersedia membeli surat utang itu.

Selain itu Barito juga mengincar perusahaan minyak dan gas Star Energy. Bahkan BPRT juga telah menjajal sektor perkebunan dengan membeli 10% saham PT Gozco Plantation Tbk (GZCO) senilai Rp 112,5 milliar. “Kami masih lihat-lihat, tapi kami serius untuk masuk ke perkebunan. Mungkin tidak hanya melalui Gozco saja kami akan masuk,” ucapnya.

Sayang, Agustino tak mau mengungkapkan target pendapatan dan laba bersih Barito tahun ini “Yang pasti meningkat dari tahun lalu,” katanya.

Namun lonjakan harga minyak bakal menghambat ekspansi Barito. Naiknya harga minyak membuat harga naptha, bahan baku utama Chandra Asri, menjadi mahal. Pada kuartal I 2007, harga naptha masih US$ 588 perton, sedangkan dikuartal I 2008 harga sudah US$ 878 per ton. “Makanya, kami menaikkan harga bertahap,” kata Agustino. (Angga Aliya)

Sumber: Harian Kontan, 7 Juni 2008